Alasan-Alasan Mengapa Teroris Keluar dari Kelompoknya

Tidak sedikit orang Indonesia bergabung dengan kelompok teror, tetapi juga banyak dari mereka yang kemudian memilih keluar. Alasan-alasan mengapa banyak jihadis keluar dari sel-sel teroris ini menjadi perhatian Julie Chernov Hwang, Associate Professor bidang Political Science and International Relations di Goucher College, Maryland, Amerika Serikat. Julie Chernov yang selama enam…

Melecut Cerah Hari Esok

Manusia pasti punya kesalahan. Tapi biar bagaimanapun, kesalahan itu haruslah dijadikan sarana introspeksi diri untuk kemudian belajar menata masa depan yang lebih baik. Begitupun dengan persoalan hidup, idealnya dijadikan semangat untuk melecut cerahnya hari esok. Seperti yang dilakukan Dewi Mulyani, istri seorang mantan polisi. Dewi juga ibu dari 4 orang…

How social enterprise movement can stop acts of terrorism

Nothing is new in the use of social enterprise to promote peace. The phenomenon has won global recognition with Nobel Peace prize awarded to social entrepreneurs like Wangari Maathai of the Greenbelt Movement in 2004, Muhammad Yunus, the founder of Grameen Bank in 2006 and former US vice president and…

Daur Ulang Teror

Oleh Noor Huda Ismail KOMPAS.com – Rentetan aksi teror baru-baru ini membuat kita semua bertanya: apa yang salah dari penanganan terorisme di Indonesia? Bukankah tidak kurang dari 600 tersangka teroris telah ditangkap aparat dan mereka ini telah diproses secara hukum dengan terbuka? Apakah memang kita sedang berhadapan dengan Hydra, sebuah…

Regenerasi Berlanjut

Oleh Noor Huda Ismail 26 September 2011 Suara Merdeka JIKA dilihat dari pola serangan, peledakan bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo, terlihat amatiran. Ledakannya kecil, mengenai sasaran yang terbatas, dan wajah yang diduga sebagai sang pelaku masih utuh. Namun, peristiwa tersebut juga menyadarkan kita pada tiga pelajaran penting.

[Bom Solo] Pemerintah harus hadir dalam kerja perdamaian

Oleh Noor Huda Ismail, Senin, 26 September 2011 | 09:00 WIB. Jika dilihat dari pola serangan, peledakan bom bunuh diri di depan gereja di Solo, Minggu (25/9), terlihat sangat amatiran karena ledakannya kecil, mengenai sasaran yang terbatas dan masih utuhnya wajah yang diduga sebagai sang pelaku. Dipastikan, aparat akan lebih…

A Tale of Terrorism and its survivor

By Fatima Astuti, Coomon Ground News, 25 February 2011; Jakarta Post, March 2011. In Indonesia, religious violence and terrorism are always discussed in the context of the 2002 Bali bombings which killed 202 people and wounded 240 others. The discussion always focuses on the perpetrators of the crime, those who…

Retracing the Steps of JI’s Abdullah Sunata

Publication: Terrorism Monitor Volume: 5 Issue: 4 March 1, 2007 04:51 PM Age: 3 yrs Category: Terrorism Monitor, China and the Asia-Pacific By: Noor Huda Ismail www.jamestown.org The January 20 killings of the top leader of the al-Qaeda-linked Abu Sayyaf Group (ASG), Khaddafy Janjalani, and his aides under the Philippine…

Perlukah Tembak Mati Teroris?

Apresiasi layak diberikan kepada pihak kepolisian terhadap kesigapan mereka dalam meredam kemungkinan adanya serangan terorisme di Indonesia dengan menangkap dan bahkan menembak mati tersangka tindak pidana teroris kelas dunia, seperti Dulmatin. Meski demikian, masyarakat percaya tim Densus 88 Antiteror sebenarnya bisa menyergap Dulmatin secara hidup-hidup sebab sebelum penyergapan, polisi telah…

Hydra Terorisme

SEJAK peristiwa bom Bali pertama, delapan tahun lalu, polisi telah menangkap tidak kurang dari 500 orang yang diduga terlibat terorisme. Sayangnya, meskipun tingkat keterlibatan dan motivasi berbeda, polisi nyaris menyamaratakan mereka sebagai “teroris” yang membahayakan negara. Pendekatan seperti ini cen derung hanya bertumpu pada paradigma sempit “who does what”-siapa melakukan…

Copyright © 2018 Yayasan Prasasti Perdamaian. All Rights Reserved