Ketika Mahasiswa Meneliti dan Berbicara Tentang Terorisme

Isu terorisme yang berkembang sekarang ini “menarik” untuk dibicarakan oleh semua kalangan. Mulai dari pejabat, LSM, akademisi bahkan masyarakat lapisan bawah. Solo merupakan sebuah kota yang pada tahun terakhir dipenuhi dengan kasus teroris. Melihat wacana seperti itulah sejumlah mahasiswa sosiologi UNS Angkatan 2010 mencoba membuat sebuah karya tulis dengan mengambil tema “Kontruksi Terorisme Dalam Heterogenitas Masyarakat Kota “ (Sebuah studi fenomenologi mengenai kontruksi terorisme dalam perbandingan antara density, size dan hetefogenity masyarakat kota Solo). Tak cukup sampai disitu karya ilmiah tersebut juga diseminarkan dengan mengundang beberapa praktisi yang mempunyai keahlian dalam bidang tersebut yang diselenggarakan Kamis (13/12/2012) di gedung Fakultas Hukum UNS.

Diundang sebagai pembicara dalam acara tersebut Dr M Najid Azka (Dosen Sosiologi UGM), Noor Huda Ismail (Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian & Penulis Buku “Temenku Teroris?”) dan terkahir Dr Argyo Demartoto (Dosen Fisip UNS).

Irene Riskiyana yang menjadi koordinator pada penelitian tersebut tampil pertama untuk mempresentasikan mengenai karya ilmiah yang dibuat bersama teman-temannya. Dari kesimpulan tentang tulisan tersebut ia merangkum dalam empat bagian pertama, kontruksi terorisme yang menganggap terorisme merupakan hal yang harus diwaspadai dan adanya antisipasi atau pencegahan. Kedua, terorisme merupakan hal yang mengkawatirkan bagi lingkungan. Ketiga, terorisme merupakan hal biasa dan yang terakhir terorisme merupakan hal yang tidak perlu dipikirkan.

Terkait solusi tentang adanya terorisme Irene menyarankan agar pengaktifan LINMAS, Kontrol sosial, meningkatkan kepedulian serta sangsi tegas terhadap masyarakat yang memiliki tingkat individualitasnya tinggi untuk segera diterapkan baik oleh pemerintah ataupun masyarakat itu sendiri.

Sedangkan Dr Argyo Demartoto lebih menyoroti perihal terorisme secara teoritis seperti penyebab dari terorisme, dampak atau akibat, serta penanggulangan ataupun pencegahan yang harus dilakukan.

Senada dengan Dr Argyo Demartoto, pembicara ketiga Noor Huda Ismail juga menyampaikan perihal terorisme namun dilengkapi dengan adanya sejarah masa silam tentang adanya pergerakan Islam yang ada disurakarta. “Pondok Ngruki tempat dimana saya belajar dulu kabarnya juga didirikan oleh orang-orang JI” Ujar lulusan University of St. Andrews, Skotlandia yang mengambil jurusan International Security tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa Solo merupakan barometer per politikan di Indonesia. Munculnya beberapa laskar Islam serta banyaknya ruang-ruang majelis taklim yang beraneka ragam pemikiran sehingga menjadikan Solo menjadi kota yang “unik”. Jalan Slamet Riyadi merupakan ajang “kebolehan” yang dilakukan oleh semua orang dalam menampilkan ide. Aksi umat Islam dilakukan disana meskipun aksi peringatan hari AIDS juga dilakukan di jalan tersebut.

“Tidak ada manusia yang lahir untuk menjadi teroris. Mereka berkembang karena banyak faktor yang mendukung langkah tersebut” tambahnya mengakhiri presentasinya.

Pembicara terakhir Dr M Najid Azka lebih banyak mengkritisi masalah tentang karya ilmiah yang dibuat oleh masiswa sosiologi angkatan 2010 tersebut. Ia tidak begitu setuju bahwa Kota menjadi penyebab munculnya terorisme” Di Poso itu wilayahnya sangat pedalaman namun disana juga mucul sebuah aksi teror” ujarnya.

Meski menarik namun acara tersebut menjadi kurang simpati karena molornya acara yang begitu lama ditambah banyaknya hiburan nyanyian serta teater sehingga waktu yang harusnya bisa dimaksimalkan untuk berdiskusi menjadi sedikit karena terpotong oleh beberapa hal tersebut.

Sumber: fujamas.net

Copyright © 2018 Yayasan Prasasti Perdamaian. All Rights Reserved