Bom Teroris Dirakit di Gubuk

Bogor, Wartakotalive.com

Aktivitas kelompok terduga teroris Harakah Sunni Untuk Masyarakat Indonesia (Hasmi) pimpinan Abu Hanifah alias Ahmad terus didalami. Polisi menggeledah sebuah gubuk yang diduga menjadi tempat perakitan bom di Gunung Suling, Desa Cibarengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Penggeledahan dilakukan petugas Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, Minggu (28/10) siang. Di gubuk yang terletak di atas perbukitan dan jauh dari permukiman penduduk itu petugas menemukan sebuah batang kayu yang sudah terbakar dan mengandung mesiu. Diduga batang kayu itu digunakan untuk uji coba ledakan bom.

Selain menggeledah gubuk yang dindingnya terbuat dari bambu itu, petugas kembali melakukan penyisiran di warung internet (warnet) milik terduga teroris Emirat (22) yang berlokasi di Jalan Neglasari, Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Penyisiran juga dilakukan di rumah kontrakan yang dihuni Zaelani (32) di Jalan Kapten Yusuf, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

Emirat dan Zaelani ditangkap Densus 88, Sabtu (27/10) lalu. Selain keduanya, juga ditangkap Zaenudin, pegawai warnet milik Emirat. Pada hari yang sama, polisi juga menangkap 8 orang terduga teroris lainnya dari kelompok Hasmi, termasuk pemimpinnya, Abu Hanifah. Jadi total ada 11 orang yang dibekuk. Mereka ditangkap di empat kota yakni Madiun (Jawa Timur) 2 orang, Solo (Jawa Tengah) 3 orang, Jakarta 3 orang, dan Bogor (Jawa Barat) 3 orang (Warta Kota, 28/10).

Peka lingkungan

Dalam penggeledahan di Bogor, kemarin, Tim Puslabfor tiba warnet milik Emirat sekitar pukul 13.00. Lima personel langsung melakukan penyisiran ulang, yang pada saat pengerebekan Sabtu lalu ditemukan barang bukti seperti serbuk bahan peledak, detonator, magazine peluru, peluru berkaliber 5, 56 milimeter, dua unit CPU computer serta buku-buku.

Penyisiran berlangsung sekitar 30 menit. Dari dalam warnet, petugas membawa dua kotak peralatan, lalu memasukan barang bukti temuannya ke dalam tas ransel warna hitam dan langsung diamankan ke mobil Suzuki APV.

Dari warnet, petugas kemudian meluncur ke Gunung Suling, tempat keberadaan gubuk yang dijadikan tempat perakitan bom. Jarak antara warnet dengan lokasi gubuk sekitar 5 kilometer. Tidak ada keterangan yang disampaikan petugas Puslabfor terkait temuan di dalam gubuk itu. “Silakan tanya ke Mabes Polri saja,” ujar seorang petugas Puslabfor.

Kapolsek Leuwiliang Kompol Djumangin yang ikut mengamankan jalannya penggeledahan juga mengaku tidak mengetahui barang apa saja yang diamankan dari lokasi warnet dan gubuk tersebut. “Hasil temuannya apa saja atau apa yang dibawa silakan tanya ke pimpinan dari Puslabfor,” katanya.

Setelah menggeledah gubuk, petugas kemudian melakukan pemeriksaan rumah kos yang ditempati Zaelani dan seorang wanita bercadar berinisial NS, di Jalan Kapten Yusuf, Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Dari rumah itu, petugas Puslabfor membawa 1 buah rangsel yang diduga berisi laptop, telepon gengam dan beberapa buku.

Terkait dengan penggerebekan rumah kos di Jalan Kapten Yusuf, Kota Bogor, Sekretaris Daerah Kota Bogor, Aim Halim Hermana, mengimbau kepada masyarakat untuk lebih peduli kepada lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

“Saya mengimbau agar masayakat lebih peka terhadap lingkungan sekitar, bila ada tamu atau orang asing segera melaporkan kepada ketua RT setempat,” ujarnya.

Alat-alat latihan

Sementara itu dari Solo diberitakan, kelompok Hasmi selama ini biasa melakukan latihan di kota itu. Mereka sering menggelar latihan sekitar pukul 22.00 atau pukul 10 malam. Latihan dilakukan di halaman belakang rumah milik Mustafa alias Mustaqbilal di Jalan Lawu Timur IV RT 5 RW 9 Kampung Marengan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah. Mustafa ditangkap polisi saat naik sepeda motor bersama Abu Hanifah di Jalan Sampangan RT 3 RW IX Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (27/10).

Abu Hanifah sendiri tinggal di rumah kontrakan milik Giyono yang letaknya persis di sebelah rumah Mustafa di Jebres, Solo. Hingga Minggu (28/10) kemarin, sejumlah aparat keamanan masih terlihat berjaga-jaga di sekitar kediaman terduga teroris itu. Garis polisi (police line) juga masih terpasang. Namun aktivitas warga sudah mulai berjalan normal.

Giyono (40) pemilik rumah yang ditempati Ahmad alias Abu Hanifah menuturkan, Abu Hanifah menempati rumahnya sekitar empat bulan yang lalu. Menurut Giyono, sebelumnya, rumah miliknya itu digunakan sebagai gudang sangkar burung. Daripada tidak ditempati, atas saran ustaz Mustafa alias Mustaqbilal, rumah tersebut lantas ditempati oleh Abu Hanifah.

“Saya hanya bermaksud menolong dan tidak ada maksud lain. Saya juga tidak tahu siapa itu Ahmad. Belakangan baru saya tahu kalau Ahmad itu adalah Abu hanifah,” katanya, Minggu (28/10).

Dijelaskannya, di rumah miliknya tersebut, Abu Hanifah tinggal bersama istri dan dua orang anaknya yang masih kecil-kecil. “Apa pekerjaannya, saya sendiri tidak tahu. Tapi menurut orang-orang, dia membuka usaha laundry,” lanjutnya.

Disinggung mengenai aktivitas yang dilakukan di rumah Mustafa, Giyono mengatakan bahwa di masjid yang berada di dalam kompleks rumah Mustafa setiap malam Senin selalu dilakukan pengajian. Namun Giyono tidak pernah mengikuti pengajian tersebut.

Sedangkan di bagian belakang rumah yang tertutup pagar bambu, menurut Giyono, kelompok Abu Hanifah sering melakukan latihan. Namun Giyono tidak tahu persis jenis latihan apa yang dilakukan. Pasalnya latihan selalu dilakukan pada malam hari dan tertutup.

“Biasanya mereka latihan sekitar jam 10 malam. Saya sendiri tidak kenal, karena kebanyakan yang ikut latihan orang dari luar. Jumlahnya bisa puluhan orang,” tuturnya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan, di lokasi latihan yang berada di halaman belakang rumah Mustafa tersebut terlihat sejumlah peralatan yang digunakan untuk latihan. Ada barbel, kayu untuk bela diri, serta tumpukan styrofoam yang digunakan sebagai penahan lemparan senjata tajam.

Generasi baru

Menurut pengamat terorisme, Mardigu Wowiek Prasantyo, ditangkapnya 11 terduga teroris dari kelompok Hasmi yang tersebar di beberapa wilayah menjadi pertanda bahwa jaringan teroris di Indonesia belum dibasmi secara tuntas. Sejumlah teroris yang berhasil diringkus dalam kurun waktu tiga bulan belakangan merupakan jaringan teroris generasi baru yang sebagian besar beranggotakan orang-orang yang berusia relatif muda.

“Mereka adalah gerakan radikal baru yang berkembang di Indonesia sekitar lima tahun terakhir. Gerakan baru ini memang digalang oleh sekelompok orang yang masih muda,” ujar Mardigu saat dihubungi Minggu (28/10) siang.

Mardigu mengatakan, sejak tahun 2008 lalu paling tidak sudah lahir lima sampai tujuh angkatan teroris muda. “Umumnya mereka berlatih militer di daerah-daerah seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Merbabu, dan sebagainya,” ujar Mardigu.

Menurut Mardigu, satu angkatan teroris biasanya beranggotakan sekitar 20 orang. ” Kalau satu angkatan saja ada 20 orang, maka setidaknya sudah ada sekitar 150 teroris muda yang siap menebar teror,” kata Mardigu.

Namun menurut penilaian Mardigu, karena masih tergolong baru, para teroris muda ini belum bisa dikatakan sebagai teroris profesional. “Secara organisasi pun mereka belum kuat. Ini yang menyebabkan pergerakan mereka mudah terdeteksi aparat. Teroris seperti Thorik di Tambora dan beberapa lainnya yang ditangkap di Depok kemarin adalah salah satu contohnya,” kata Mardigu.

Menurut Mardigu, lahirnya teroris angkatan baru ini tidak disebabkan oleh aksi teroris-teroris terdahulu, melainkan karena doktrin dari sebuah ideologi garis keras. “Teroris lahir karena ideologi. Mereka bergerak berdasarkan mimpi untuk menjadikan negara yang sepaham dengan ideologinya, seperti NII. Jadi munculnya teroris baru ini tidak ada kaitannya dengan aksi teroris lama,” katanya.

Noor Huda Ismail, pengamat terorisme lainnya, juga mengatakan tentang generasi baru teroris. “Embrio terorisme di Indonesia memang berasal dari ideologi keras yang hidup di era 1950-an. Ideologi itu lalu diadopsi kembali oleh sekelompok pemuda, yang kemudian menjadi teroris generasi baru ini,” katanya.

Menurut Noor, dalam masa hukuman penjaranya, para teroris harus ditangani secara khusus. “Karena lahir dari ideologi, seharusnya mereka dipisahkan dari tahanan-tahanan lain, supaya mereka tidak bisa mendoktrin tahanan lain dan menyebarkan ideologi tersebut,” kata Noor.

Warga takut

Pasca ditangkapnya tiga terduga teroris di Jakarta Barat, yakni Narto (30); David Ashary (19), dan Herman Setyono (22), warga mengaku cemas dan was-was. Sejumlah warga pun hingga Minggu siang masih memadati lokasi ditangkapnya ketiga terduga teroris tersebut

“Ya takutlah. Siapa yang nyangka ternyata anak baik-baik seperti mereka ternyata ikut jaringan teroris,” ujar Tri (34), salah seorang tetangga David dan Herman yang ditangkap di Jalan Kemangisan Pulo II No 15, RT 03/09, Palmerah.

Keberadaan ibu David dan Herman, Siti Mariam pun hingga Minggu petang kemarin belum diketahui. “Ibunya dari kemarin memang nggak ada, karena sedang pergi kerja menjahit,” ujar Yuni lagi

Berbeda dengan Herman dan David yang ramah dan suka bergaul dengan warga, Narto adalah pribadi tertutup dan misterius. “Dia baru sekitar enam bulan tinggal disini. Orangnya memang pendiam sekali. Disapa tetangga juga diam saja. Ada acara juga tidak pernah mau datang,” kata Lutfi lagi. (wid/iwn/kar)
Berita Kota Cetak

Sumber: www.wartakotalive.com

Copyright © 2018 Yayasan Prasasti Perdamaian. All Rights Reserved