Newsletter August 2011

Serangan di Norwegia ; Terorisme dan fobia multikulturalisme

By Guntur Wiseno Putra

Beberapa minggu yang lalu berlangsung serangan mengerikan di Norwegia. Apa yang tengah terjadi di Norwegia hari ini? Apakah terorisme muncul di sana?
Norwegia adalah bagian dari benua Eropa meskipun tidak termasuk di dalam Uni Eropa yang darinya persoalan-persoalan mengenai budaya antara lain terkait dengan religi, kekerasan, integrasi sosial dan multikulturalisme.
Multikulturalisme ialah mengenai budaya-budaya yang berbeda dan cara-cara untuk bereaksi terhadapnya. Di negara-negara Eropa, persoalan-persoalan mengenai multikulturalisme terkait erat dengan peroalan-persoalan imigrasi – khususnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan tenaga kerja. Ia adalah budaya para imigran dalam proses untuk berintegrasi dengan warga asli yang menjadi persoalan-persoalan yang diperhatikan oleh politik pemerintah di setiap negara.
Dalam syarat-syarat hubungan antara urusan-urusan religius dan kekerasan, Norwegia tidaklah terpisah dari pemetaan teror dalam skala global. Pada Juli 2010, berlangsung suatu aksi kepolisian – oleh Dinas Keamanan Polisi Norwegia – menahan orang-orang yang diduga terlibat dalam mempersiapkan akativitas-aktivitas teror. Suatu peristiwa berbasis terorisme yang pernah berlangsung di Norwegia terkait dengan persoalan-persoalan keamanan negara tetangga Denmark. Terdapat para tersangka teroris yang ditahan di suatu plot al-Qaeda yang dinyatakan di Norwegia karena kemungkinan-kemungkinan untuk menyerang surat kabar Denmark Jyllands Posten yang meng-kartun-kan Nabi Muhammad dan menyerang orang-orang di Denmark yang terkait dengan gambar-gambar tersebut.

Aksi-aksi teror di Eropa terkait erat dengan Amerika Serikat yang mendeklarasikan ‘perang terhadap teror’. Dalam syarat-syarat keamanan, kebijakan-kebijakan Eropa berada dalam ketegangan dengan posisi Amerika Serikat yang mengambil pendekatan unilateral. Dalam kaitan dengan aksi-aksi teror di Eropa, melalui operasi-operasi lintas benua tersebut banyak teroris dan sel-sel mereka yang dilarang di negara-negara Italia, Jerman, Prancis dan Inggris. Sebagaimana hal tersebut diikuti oleh penahanan-penahanan, pengadilan-pengadilan yang berkelanjutan, dan pengumpulan-pengumpulan informasi, terdapat kesepakatan-kesepakatan di antara pejabat-pejabat hukum Eropa yang memandang bahwa terorisme bukan hanya ancaman bagi Amerika Serikat namun juga bagi benua tersebut, namun penaksiran ancamannya tidak diterima secara universal. Hal itu mengenai perbedaan di antara penemuan-penemuan di lapangan oleh agensi-agensi intelejen dan posisi-posisi yang diambil oleh para pemimpin politik Eropa. Perbedaan tersebut terkait erat dengan dinamika internal dari masing-masing negara Eropa berkenaan dengan dukungan bagi Perang atas Teror yang diinisiasikan oleh Amerika Serikat.

Dalam syarat-syarat perdamaian dan keamanan, Eropa kontemporer ditandai oleh instabilitas-instabilitas di benua itu sendiri, tantangan-tantangan yang diletakkan oleh tetangga Eropa, dan tantangan-tantangan pada nilai-nilai Eropa dan universal dan akibat yang terkait. Sebagai contoh, suatu wilayah lain dari Eropa adalah Afrika yang karena ada instabilitas-instabilitas yang permanen bisa memiliki akibat langsung sebagai efek dari migrasi ; lalu-lintas perdagangan obat, senjata, dan orang dan dalam menyediakan lahan subur bagi terorisme.
Untuk persoalan-persoalan nilai-nilai Eropa dan yang terkait, adalah keterlibatannya dengan upaya-upaya Pengadilan Kejahatan Internasional, khususnya berkenaan dengan konsep-konsep yang mendasarinya bagi kejahatan-kejahatan perang, kejahatan-kejahatan melawan kemanusiaan, dan pembunuhan massal.
Ekstrimisme sayap kanan di Norwegia

Serangan dengan sebuah bom mobil di kantor Perdana Menteri Norwegia, Oslo, dan penembakan-penembakan di suatu perkemahan pemuda Partai Buruh, pulau Utoeya, membunuh 92 dan melukai 97 sementara masih terdapat pula beberapa orang hilang. Ia menggambarkan suatu posisi terkait dengan urusan-urusan religius, integrasi sosial, dan kekerasan di Norwegia Eropa sendiri dan di panggung global. Ia berlangsung pada suatu waktu ketika terdapat suatu perubahan dalam iklim politik di Eropa yakni eksistensi xenophobia-islamophobia dalam hubungan dengan para imigran khususnya Muslim dan ekstrimisme sayap kanan politik di Eropa. (Betapa pun terdapat pandangan-pandangan berkenaan dengan bagaimana kanan ekstrim politik di Eropa mengungkapkan diri mereka sendiri dalam pengertian-pengertian apakah ia perlu untuk menggunakan kekerasan atau tidak.) Pada saat itu terdapat pula kecenderungan-kecenderungan nasionalis manakala tajuk berita menyebut pelaku sebagai ‘seorang gila yang menciptakan tragedi nasional’ ketimbang seorang teroris.

Anders Behring Breivik, sang pelaku, sebagaimana dikatakan oleh pengacaranya yang mengkonfirmasikan manifesto yang ia tulis online, didorong untuk menjalankan suatu revolusi di dalam masyarakat Norwegia. Hal itu terkait dengan penolakannya terhadap imigrasi Muslim ke dalam Eropa dan pengkhianatan ‘warga Eropa asli’ terhadap warisan mereka. Ia mengatakan bahwa elit Eropa, multikulturalis, dan para pendukung Islamisasi perlu untuk dihukum karena ‘tindakan-tindakan mereka. Sebagaimana otoritas katakan, Breivik memiliki suatu pandangan anti-Muslim dan mengirimkan posting untuk website fundamentalis Kristen. Ia merupakan suatu manifesto 1500 halaman berjudul ‘2083- Suatu Deklarasi Eropa mengenai Kemerdekaan’ tertanda ‘Andrew Berwick’ dengan waktu yang diacu sebagai waktu coup d’etat yang menelan Eropa dan menghancurkan elit yang ia fitnah.

Terdapat suatu sinyal kuat bahwa terdapat suatu hubungan dengan kepentingan politik sebagaimana serangan-serangan tersebut diarahkan pada pulau Utoeya yang menjadi lokasi suatu perkemahan pemuda dari partai Perdana Menteri Jens Stoltenberg. Sebagaimana dinyatakan oleh terjemahan Inggris dari pemerintahan Hakim Heger, ia terkait dengan kebijakan politik partai Butuh tentang men-dekonstruksi budaya Norwegia dan mengimpor secara massal warga Muslim. Kedua tempat yang dimaksud — yakni gedung pemerintah Perdana Menteri dan suatu perkemahan pemuda di pulau Utoeya — terkait dengan partai Buruh kiri Norwegia.

Meskipun terdapat suatu pernyataan resmi bahwa serangan tersebut tidak terkait dengan organisasi teroris internasional, sang pelaku sendiri manyatakan bahwa terdapat dua sel gerakan yang lain yang disebut Ksatria Templar (Knights Templar). Manifesto yang Breivik tulis dan terbitkan online meng-indikasi-kan bahwa terdapat hubungan dengan organisasi yang dibentuk di London pada tahun 2002 yang disebut Ksatria Templar – mengacu pada perjalanan historis Kristen pada masa setelah perang Salib pertama di Tanah Suci.

Pada saat yang sama terdapat pula suatu video 12 menit yang dipos-kan pada Youtube dengan judul sama sebagaimana dengan manisfesto tersebut, ia menghadirkan suatu gambaran simbolis Ksatria Templar dan Raja ; dan potongan-potongan gambar mengenai peristiwa-peristiwa saat Eropa dihancurkan oleh umat Muslim, terdapat foto-foto dirinya mengenakan seragam militer dengan sepucuk senapan – terdapat pula kebencian terhadap kelompok Kiri. Sebagaimana video tersebut menyertai serangan tersebut, terdapat potongan-potongan gambar yang menuduh kelompok Kiri menerima Eropa dihancurkan oleh Muslim. Terdapat suatu gambar saat logo BBC diubah yang darinya huruf ‘C’ menjadi lambang Islam, sementara yang lain mendeklarasikan bahwa hasil akhir dari tindakan Kiri akan merupakan EUSSR.

Serangan-serangan oleh Breivik menandai hubungan-hubungan internasional sebagaimana terdapat suatu pengakuan bahwa para Ksatria Templar pernah mengadakan pertemuan-pertemuan di London (2002) dan Baltics. Terdapat pula suatu penemuan mengenai perkumpulan-perkumpulan online dari orang-orang yang meng-klaim sebagai bagian dari para Ksatria Templar. Menurut pengakuan Breivik di pengadilan, setelah pertemuan-pertemuan yang diadakan di London dan Baltics, para anggota kelompok tersebut berikrar untuk tidak berhubungan satu dengan yang lain dan merencanakan perlawanan mereka menurut cara mereka sendiri.

Breivik dikenakan ancaman hukuman 21 tahun untuk aksi terorisme. Sementara 21 tahun merupakan hukuman yang paling berat yang seorang hakim Norwegia bisa jatuhkan. Namun hukuman khusus bisa diberikan bagi para narapidana yang dianggap sebagai suatu bahaya terhadap masyarakat yang dibui diatas 20 tahun dan bisa diperbaharui untuk waktu yang tidak terbatas.

Terdapat diskursus-diskursus mengenai kejahatan melawan kemanusiaan dan mengenai suatu pengenalan kembali hukuman mati di Norwegia mengikuti serangan terhadap gedung perdana menteri dan suatu perkemahan pemuda di pulau Utoeya. Sementara belum terdapat kebutuhan untuk menguatkan kebijakan-kebijakan kontra-terorisme yang melibatkan pemerintah dan polisi – misalnya keamanan bandara dan tempat-tempat publik. Fokus terhadap Islamis militan juga telah menyamarkan sumber-sumber daya potensial lain dari terorisme.

Serangan-serangan teroris di Norwegia adalah peristiwa-peristiwa yang menandai konflik-konflik potensial yang berakar pada struktur-struktur Eropa dari masyarakat – mereka adalah religi dan penetapan politik dari suatu negara. Sebagaimana berlangsung di sana, aksi terorisme tidak dibatasi oleh Islamis-militan namun Kristen ekstrimis pula. Sebagaimana terdapat peta-peta global mengenai gerakan-gerakan terorisme yang melintasi benua tersebut, bisa pula mereka berada dalam urusan-urusan krusial dengan tetangga Eropa khususnya.

Copyright © 2018 Yayasan Prasasti Perdamaian. All Rights Reserved