Bermain Facebook atas Izin Allah

+ Bagaimana kita berjihad?

– Rasulullah sudah memerintahkan memerangi penguasa kafir. Sekarang semua negeri dikuasai para tagut. Kita hijrah dengan tauhid dan jihad.

Dari penjara Sukamiskin, Bandung, Aman Abdurrahman memberikan ceramah. Topiknya adalah pentingnya tadrib askary atau pelatihan militer bagi kaum muslim. Aman menggunakan telepon seluler dalam menyampaikan materi itu. Ceramah jarak jauh dengan pendengar di luar penjara. Sesekali ceramah itu terhenti. Terdengar seseorang berbisik, “Ada yang lewat.”

Aman bebas dari penjara pada Juli 2008. Ia ditahan karena kasus bom Cimanggis 2004. Ustad kelahiran Sumedang ini dikenal keras menyuarakan jihad dan menyebut Indonesia negeri tagut. Ceramahnya menyihir banyak pemuda, termasuk tersangka teroris yang ditangkap di Aceh, Gema Awal Ramadhan, Agam Fitriadi, dan Yudi Zulfahri. Jumat dua pekan lalu, polisi kembali menangkap Aman di rumahnya di Kampung Cipanteneun, Sumedang, Jawa Barat.

Awalnya ceramah Aman hanya menekankan tauhid. Pada 2003, ia bertemu dengan Harun, alumnus Ambon dan Poso, di Masjid At-Taqwa, Tanah Abang. “Harun bertanya, apa gunanya tauhid kalau tak berjihad,” kata Direktur Riset Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie, yang beberapa kali bertemu dengan Aman di Sukamiskin.

Harun berbicara kepada Aman tentang pentingnya i’dad atau persiapan dan latihan sebelum jihad. Harun lalu melatih Aman dan murid-muridnya: latihan fisik, penyamaran, penguasaan senjata, dan pembuatan bom. Pada Maret 2004, ketika mereka berlatih di Cimanggis, bom meledak. Aman dan murid-muridnya ditangkap dan dituduh memiliki bahan peledak. Murid Aman di Cimanggis, Agus Kusdianto, ditangkap lagi di Aceh awal Maret lalu.

Aman divonis tujuh tahun penjara pada Februari 2005. Ia dipenjarakan di Paledang, Bogor, kemudian dipindahkan ke Sukamiskin, Bandung. Aman satu-satunya tahanan yang dihukum karena terorisme di Sukamiskin. Selama di penjara, Aman rajin menggelar pengajian dan memiliki sejumlah pengikut.

Aman memiliki murid bekas mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri yang dihukum karena menganiaya temannya. Gema Awal Ramadhan, seorang di antaranya, menjadi sangat militan sehingga menolak menemui orang tuanya dan mengkritik ibunya sebagai tagut karena bekerja di pemerintahan.

Aman juga sering diminta mengisi pengajian dari luar penjara. Abdullah Sunata, sekarang buron, ketika masih di penjara Cipinang pernah meminta Aman mengisi pengajian jarak jauh. “Dari Sukamiskin ke Cipinang melalui telepon,” kata Taufik.

Ustad salafi itu semakin radikal setelah di penjara. Aman menamai kelompok pengajiannya “Jamaah Tauhid Wal Jihad”. Alumnus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, Jakarta, yang fasih berbahasa Arab ini juga banyak menerjemahkan karya ulama garis keras, seperti Abu Muhammad al-Maqdisi dari Yordania.

Penjara tak menyurutkan semangat kelompok ini untuk menyebarkan gagasan dan melebarkan jaringan. Trio bomber Amrozi, Muchlas, dan Imam Samudra pernah merekrut tahanan germo dan pengguna narkotik. “Penjara menjadi lahan yang empuk karena biasanya preman ingin bertobat,” kata Noor Huda Ismail, Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian.

Dalam laporan International Crisis Group, narapidana terorisme bisa menarik tahanan biasa karena memiliki dana, lantaran banyak donatur yang bersimpati. Mereka juga dianggap memiliki idealisme dan kemauan bertempur sehingga sangat dihargai penghuni penjara lain. Di setiap penjara, “Gang Ustad” selalu disegani tahanan lain.

Sejak peristiwa bom Bali 2002, polisi menangkap 466 orang pelaku terorisme. Sebagian besar ditahan di Cipinang. Pelaku terorisme lain dipenjarakan di Kedungpane Semarang, Porong Sidoarjo, Kerobokan Bali, dan penjara lain. Saat ini masih ada 126 narapidana di seluruh Indonesia dan 198 orang telah bebas.

Peneliti senior International Crisis Group, Sidney Jones, mengatakan teroris biasanya lebih solid dalam penjara. Mereka juga leluasa berkomunikasi dengan orang luar, termasuk melalui telepon seluler.

Pelaku pembunuhan pastor di Palembang, seperti Fajar Taslim dan Abdurahman Taib, bisa berselancar di Internet dan Facebook-an. Fajar, yang divonis 18 tahun penjara, dan Taib, 12 tahun penjara, kini ditahan di Cipinang, Jakarta.

Hingga pekan lalu, keduanya masih aktif menulis status dan komentar. Eh, kok bisa Facebook-an? “Tak usah banyak tanya, kalau Allah mengizinkan, semuanya bisa terjadi,” jawab Taib dalam dinding Facebook-nya ketika ditanya pengunjung lain.

Yandi M.R.

Majalah TEMPO, edisi 29 Maret 2010

Copyright © 2018 Yayasan Prasasti Perdamaian. All Rights Reserved